Yustinianus I | keagamaan

Keagamaan

Yustinianus melihat Ortodoks di negerinya diancam oleh arus keagamaan yang menyimpang, terutama monofisitisme, yang memiliki banyak penganut di Suriah dan Mesir. Doktrin monofisit telah dikutuk sebagai bidaah oleh Konsili Khalsedon pada tahun 451, dan kebijakan toleran Kaisar Zeno dan Anastasius I terhadap monofisitisme telah menjadi penyebab ketegangan dalam hubungan dengan uskup-uskup Roma. Yustinianus menyetujui doktrin Khalsedon dan secara terbuka mengutuk monofisitisme. Ia mencoba menerapkan kesatuan religius dengan memaksa mereka menerima kompromi-kompromi doktrinal yang akan memuaskan semua pihak. Kebijakan itu tidak berhasil karena tidak dapat memuaskan kedua belah pihak. Sebelum mangkat, Yustinianus menjadi lebih condong terhadap doktrin monofisit, terutama dalam bentuk aphthartodocetism, tetapi ia telah wafat sebelum sempat mengeluarkan undang-undang yang mengangkat ajarannya menjadi dogma. Theodora bersimpati dengan monofisit dan dikatakan menjadi penyebab intrik pro-monofisit di istana.

Kebijakan religius

Yustinianus I dalam sebuah koin.

Pada awal kekuasaannya, ia menganggap sudah saatnya untuk menyebarluaskan kepercayaan gereja mengenai Trinitas dan Inkarnasi melalui hukum. Ia juga merasa perlu untuk mengancam semua bidaah dengan hukuman yang layak;[44] kemudian Yustinianus I menyatakan bahwa ia ingin menghilangkan semua pengganggu Ortodoks dengan segala kemungkinannya melalui pendekatan hukum.[45] Ia menjadikan kepercayaan Nicea-Konstantinopel sebagai lambang tunggal gereja,[46] dan memberikan kekuatan hukum untuk kanon empat dewan ekumenisme.[47] Uskup-uskup yang hadir dalam Konsili Konstantinopel Kedua tahun 553 mengakui tidak dapat melakukan apa yang berlawanan dengan keinginan dan komando kaisar dalam gereja;[48] sementara, kaisar, dalam kasus Patriark Anthimus, memperkuat larangan gereja melalui pengasingan sementara.[49] Yustinianus melindungi kemurnian gereja dengan menekan bidaah. Ia mengambil semua kesempatan untuk mengamankan hak-hak gereja dan rohaniwan, dengan tujuan melindungi dan memperluas monastisisme. Yustinianus memberikan pendeta hak untuk mewarisi properti dari penduduk dan hak untuk menerima solemnia atau hadiah tahunan dari kas kekaisaran atau pajak provinsi-provinsi tertentu. Ia juga melarang penyitaan terhadap properti-properti biara.

Meskipun sifatnya yang despotik tidak sesuai dengan sensibilitas modern, ia sungguh merupakan "bapak perawat" gereja. Codex dan Novellae berisi banyak undang-undang mengenai sumbangan, pendirian, dan pengaturan properti gerejawi; pemilihan dan hak-hak uskup, imam, dan kepala biara; kehidupan biara, kewajiban penduduk kepada klerus, pelayanan ilahi, yurisdiksi episkopal, dll. Yustinianus juga membangun kembali gereja Hagia Sophia (yang menghabiskan biaya sebesar 20.000 pon emas),[50] yang sebelumnya hancur akibat kerusuhan Nika.

Hubungan religius dengan Roma

Semenjak pertengahan abad ke-5, kaisar Romawi Timur harus menghadapi tugas berat dalam masalah gerejawi. Kaum radikal di tiap sisi merasa diri mereka senantiasa didiskreditkan oleh kepercayaan yang diterapkan oleh Konsili Khalsedon untuk melindungi doktrin Kristus di kitab suci dan menjembatani pemisah antara kelompok-kelompok dogmatik. Surat Paus Leo I kepada Flavianus dari Konstantinopel dianggap sebagai hasil karya setan di Romawi Timur, sehingga tak ada seorang pun yang peduli untuk mendengarkan Gereja Roma. Akan tetapi, kaisar memiliki kebijakan yang menjaga kesatuan antara Konstantinopel dengan Roma; dan ini tetap mungkin hanya jika mereka tidak menyimpang dari garis yang didefinisikan dalam Konsili Khalsedon. Selain itu, faksi-faksi di Romawi Timur yang gempar dan tidak puas terhadap Konsili Khalsedon memerlukan pembatasan dan penyatuan. Masalah ini terbukti lebih sulit, karena, di Timur, kelompok-kelompok yang berbeda pendapat melebihi pendukung Khalsedon, baik dalam jumlah maupun kemampuan intelektual. Ketegangan dari ketidakcocokan keduanya tumbuh: siapapun yang memilih Roma dan Barat harus meninggalkan Timur, dan sebaliknya.

Setelah memasuki panggung tata negara gerejawi, Yustinianus mengakhiri skisma monofisit. Pengakuan Tahta Suci sebagai kewenangan gerejawi tertinggi[51] tetap menjadi landasan bagi kebijakan Barat-nya. Meskipun dianggap menghina oleh orang-orang Romawi Timur, Yustinianus merasa dirinya bebas untuk mengambil posisi despotik terhadap paus seperti Silverius dan Vigilius. Sementara tidak ada kompromi yang dapat diterima oleh sayap dogmatik gereja, usahanya dalam melakukan rekonsiliasi membuatnya diterima oleh tubuh utama gereja. Selanjutnya, Yustinianus mulai sadar bahwa mungkin ia juga dapat melakukan rekonsiliasi terhadap monofisit, dan ia mencobanya dalam konferensi religius dengan pengikut-pengikut Severus dari Antiokhia tahun 533, akan tetapi tidak berhasil.

Sekali lagi, Yustinianus berkompromi dalam dekret religius pada 15 Maret 533,[52] dan menyelamati dirinya karena Paus Yohanes II mengakui Ortodoks sebagai syahadat kekaisaran.[53] Kesalahan besar yang dibuat, yaitu dengan menekan uskup dan pendeta monofisit yang menyakiti hati penduduk dari berbagai provinsi, segera ia perbaiki. Tujuannya sekarang adalah tetap menang atas monofisit, tetapi tidak melepaskan kepercayaan Khalsedon. Bagi banyak orang di istana, ia tidak berbuat cukup jauh: Theodora akan sangat senang melihat monofisit didukung. Yustinianus merasa terkekang oleh kerumitan yang terjadi dengan Barat. Dalam pengutukan , Yustinianus mencoba memuaskan Barat dan Timur, tetapi tidak berhasil. Meskipun paus menyetujui pengutukan, Barat meyakini bahwa kaisar bertindak berlawanan dengan dekret Khalsedon. Meskipun banyak delegasi yang muncul di Timur tunduk kepada Yustinianus, banyak orang, terutama monofisit, yang tetap tidak puas.

Penekanan agama

Kebijakan religius Yustinianus melambangkan keyakinan kekaisaran bahwa kesatuan Bizantium memerlukan kesatuan keyakinan; dan keyakinan ini tiada lain selain Ortodoks (Nicea). Orang lain yang berbeda pandangan harus mengakui bahwa proses konsolidasi, yang telah dipengaruhi oleh undang-undang kekaisaran sejak masa Kaisar Konstantius II, akan terus berlanjut. Codex berisi dua undang-undang[54] yang memutuskan penghancuran paganisme, bahkan dalam kehidupan pribadi. Sumber-sumber kontemporer (John Malalas, Theophanes, Yohanes dari Efesus) mengisahkan penganiayaan kejam, bahkan terhadap orang berpangkat tinggi.

Pada tahun 529, Akademi Neoplato di Athena ditempatkan di bawah pengawasan negara oleh Yustinianus. Pengawasan tersebut mencekik sekolah pelatihan Helenistik ini. Paganisme terus menerus ditekan. Di Asia Kecil, Yohanes dari Efesus mengklaim telah mengkristenkan 70.000 pagan.[55] Bangsa-bangsa lain juga menerima Kekristenan: Heruli,[56] Hun yang tinggal di dekat sungai Don,[57] Abasgi,[58] dan Tzanni di Kaukasus.[59]

Penyembahan Amun di Augila, Libya, dihentikan.[60] Sisa-sisa pemuja Isis di pulau Philae juga bernasib sama.[61] Presbyter Julian[62] dan Uskup Longinus[63] mengadakan misi kristenisasi terhadap suku Nabath, sementara Yustinianus mencoba memperkuat Kekristenan di Yemen dengan mengirim uskup dari Mesir.[64]

Orang Yahudi juga menderita: tidak hanya karena pemerintah membatasi hak mereka[65] dan mengancam hak-hak religius mereka,[66] tetapi juga karena kaisar ikut campur dalam masalah internal sinagoga.[67] Yustinianus tidak aktif menjalankan penganiayaan terhadap orang Yahudi, tetapi mendorong mereka menggunakan septuaginta Yunani dalam sinagoga-sinagoga di Konstantinopel.[68]

Kaisar memiliki banyak masalah dengan orang-orang Samaria yang menentang untuk menjadi Kristen. Ia melawan mereka dengan dekret-dekret keras, tetapi tidak dapat menghentikan permusuhan Samaria terhadap orang Kristen. Kekonsistenan kebijakan Yustinianus berarti bahwa penganut maniisme juga mengalami penekanan, baik melalui penganiayaan, pembuangan, maupun ancaman hukuman mati.[69] Di Konstantinopel, pada suatu peristiwa, setelah melalui inkuisisi ketat, penganut-penganut maniisme yang tidak sedikit jumlahnya dihukum mati di hadapan kaisar: beberapa dengan cara dibakar, sementara lainnya ditenggelamkan.[70]

En otros idiomas
Alemannisch: Justinian I.
aragonés: Chustinián I
asturianu: Xustinianu I
azərbaycanca: I Yustinian
беларуская: Юстыніян I
беларуская (тарашкевіца)‎: Юстыніян I
български: Юстиниан I
brezhoneg: Justinian Iañ
bosanski: Justinijan I
català: Justinià I
čeština: Justinián I.
Cymraeg: Justinianus I
Deutsch: Justinian I.
English: Justinian I
español: Justiniano I
français: Justinien
Gaeilge: Justinian I
galego: Xustiniano I
íslenska: Justinianus 1.
italiano: Giustiniano I
Basa Jawa: Justinianus I
ქართული: იუსტინიანე I
Kabɩyɛ: Justinien
қазақша: І Юстиниан
Ladino: Justinianus
lietuvių: Justinianas I
latviešu: Justiniāns I
Malagasy: Justinian I
македонски: Јустинијан I
Bahasa Melayu: Justinian I
မြန်မာဘာသာ: ဂျပ်စတီနီယံ၊ (ပထမ)
Napulitano: Giustiniano I
Nederlands: Justinianus I
occitan: Justinian Ier
português: Justiniano
русский: Юстиниан I
sicilianu: Giustinianu I
srpskohrvatski / српскохрватски: Justinijan I. Veliki
Simple English: Justinian I
slovenčina: Justinián I.
slovenščina: Justinijan I.
српски / srpski: Јустинијан I
svenska: Justinianus I
Kiswahili: Justiniani I
Tagalog: Justiniano I
Türkçe: I. Justinianus
українська: Юстиніан I
Tiếng Việt: Justinianus I
Winaray: Justinian I